| Mengenal diri sendiri | ||||
|
Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan oleh karena itulah manusia diberi amanah agar maenjadi khalifah (penguasa) di dunia ini. Pemberian amanah ini bukan sesuatu yang terjadi secara spontan melainkan melalui proses yang berjenjang. Konon katanya amanah itu pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka semua menolaknya. Kemudian tampilah manusia sebagai pengemban amanah itu.Sebagai makhluk pengemban amanah itu manusia telah dikaruniai dengan alat-alat indera dan fakultas rasional (aql). Dengan karunia ini manusia dapat menjadi makhluk yang secara continyu berpindah dari satu kesempurnan menuju kesempurnan berikutnya pada strata yang lebih tinggi. Namun dengan karunia ini pula makhluk tuhan bernama manusia ini terjerembab menjadi makhluk hina luar biasa bahkan lebih hina dari binatang ternak yang dapat disantap dan diperbudak dengan seenaknya. Karunia yang diberikan bukan sebuah paket yang sejak diberi sampai mati dibiarkan saja menjadi monument abadi tetapi karena ia adalah karunia maka potensi kebaikan yang ada didalamnya harus diubah agar senantiasa baik dan memberi manfat dalam hidupnya, maka sebetulnya dari sinilah hidup manusia sebagai manusia bisa bernilai dan dari sini pula manusia dapat secara PD (percaya diri) mempertanggungjawabkan apa yang dikaruniakan Tuhan. Ternyata dengan karunia yang diberikan ini manusia punya kemampuan untuk melakukan perjalanan panjang agar ia sampai berkenalan dengan Tuhannya, perkenalan dengan tuhan ini tentu kemudian akan gagal ketika sarana pendukungnya tidak bergerak dinamis melihat fenomena dalam diri dan di sekitarnya (the others). Pengenalan manusia terhadap sekeliling dapat ia peroleh lewat indera lahir, dari indera kemudian diteruskan kedalam indera batin yang sudah berupa abstraksi yang dapat memunculkan rupa (form). Hasil abstraksi ini selanjutnya disimpan (representasi) karena tanpa disimpan data realitas lahir ini akan hilang. Setelah menerima hasil persepsi yang ada pada representasi estimasi (al wahmiyah) mempersepsi maknanya. Pada tahap ini diri telah mampu membentuk opini tetapi ini hanya didasakan pada penafsiran instinktif atau hubungannya dengan dengan pengalaman masa lalu, yang bisa saja salah. Ingatan-peringatan (al-hafizh-al-dzakir) mempunyai fungsi yang sama denganrepresentasi dalam hal makna; ia menyimpan makna yang telah dipersepsi oleh estimasi. Imajinasi (al-mutakhayyilah)adalah perantara antara indera-indera batin dengan fakultas rasional manusia, yaitu akal (dan karenanya juga perantara antara diri hewani [animal soul] yang terdiri dari kelima indera batin ini, dengan diri manusiawai/rasional [human/rasional soul] ). Ia menerima rupa-rupa dari representasi dan makna-makna dari ingatan-peringatan, dan bertindak atasnya sedemikian hingga makna-makna terkait dengan rupa-rupanya. Proses psikoogis-epistemologis ini berlanjut dalam fakultas rasional manusia, dan hasil akhirnya adalah pengetahuan tentang alam lahir (syekh Muhammad Naquib Al-Attas dalam Islam dan filsafat Sains, Mizan, Bandung, 1995, hlm.34-45). Deskripsi sederhana Muhammad Baqir Ash-Shadr dalam Falsafatuna menyatakan bahawa Pengetahuan secara garis besar terbagi dua. Pertama, konsepsi atau pengetahuan sederhana. Kedua , tashdiq (assent atau pembenaran), yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian. Konsepsi adalah penangkapan kita terhadap pengertian panas, cahaya, suara dan lain-lain. Kemudian tashdiq adalah penilaiaian kita bahwa panas adalah energi yang berasal dari matahari. Piiran manusia sebetulnya mangandung dua konsepsi. Pengertian-penertian konsepsieptual sederhana, seperti pengertian panas,cahaya,suara. Dan konsepsi-konsepsi tunggal manusia lainnya. Kedua pengertian-pengertian majemuk. Yaitu konsepsi yang merupakan kombinasi dari konsepsi-konsepsi sederhana. Lalu Sumber hakiki dan sebab timbulnya konsepsi-konsepsi sederhana dalam persepsi manusia menurut para filosof muslim dapat dideskripsikan dengan mengelaborasi teori disposesi (intizha). Teori ini terangkum dalam pembagian konsepsi-konsepsi mental menjadi dua bagian ; konsepsi-konsepsi primer dan konsepsi-konsepsi sekunder. Konsepsi-konsepsi primer adalah dasar konseptual bagi akal manusia. Ini lahir dari persepsi inderawi secara langsung terhadap kandungan-kandungannya. Kita mengkonsepsi sesuatu dengan perantara indera kita dan dari sini diteruskan oleh akal untuk yang dapat membangun konklusi dari yang dipersepsi, karena akal kita sudah memiliki ide tentang sesuatu yang dapat ditangkap oleh persepsi inderawi. Dari ide-ide itu terbentuklah kaidah pertama (primer) bagi konsepsi. Berdasarkan kaidah itu akal memunculkan sekunder (turunan). Dari sini mulailah terjadinya akumulasi pengetahuan yang menjadi basis bagi keberlangsungan inovasi dan konstruksi. |









Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan oleh karena itulah manusia diberi amanah agar maenjadi khalifah (penguasa) di dunia ini. Pemberian amanah ini bukan sesuatu yang terjadi secara spontan melainkan melalui proses yang berjenjang. Konon katanya amanah itu pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung tetapi mereka semua menolaknya. Kemudian tampilah manusia sebagai pengemban amanah itu.